mayadefitri

Wednesday, December 22, 2010

PERTEMUAN, sebuah cerpen

Kenapa aku begini gelisah ya? Kenapa aku tidak bisa menyelesaikan persoalanku sendiri? Sejak Ramadan belum datang, perasaan ini kembali mengaduk- aduk ulu fikirku.
Entah, harus kukatakan apa dan bagaimana. Jika kau menginginkanku untuk bercerita seperti sekarang, yang kutemui tentulah suatu kebingungan. Seperti juga sekarang yang kurasakan ketika ingin mengajakmu berbicara dan mencurahkan perasaanku.
Baiklah. Akan kucoba menguraikan sedikit demi sedikit. Sebuah ingatan, itulah yang aku rasakan saat ini.
Braaaak.
“Pergi kamu dari rumah ini. Jangan pernah lagi kau injak tanah ini. Dan jangan pernah kau panggil lagi aku dengan sebutan ‘Ibu’. Aku bukan ibumu lagi. Ingat itu,” tak kusangka aku akan mendengar kata- kata itu. Bahkan membayangkan pun aku belum pernah.
Kurasakan ibuku memang sedikit berubah dari yang aku rasakan selama hidupku. Dulu ia begitu sabar dan menyayangiku sebagai anak tunggalnya. Hampir tak pernah ada kata ataupun perilakunya yang terlalu menyinggung perasaan. Sehebat- hebatnya aku bermasalah dengannya, tak kan sanggup aku bermusuhan dan berada dalam keterdiaman dengannya. Paling- paling, cukup satu hari dan kami pun akan berbaikan kembali.
Sejak ayahku meninggal, entah kenapa ibu kurasakan menggebu- gebu keinginannya untuk menimang cucu. Padahal, bagaimana mungkin aku akan memberikannya seorang cucu dari rahimku jika aku belum memiliki seorang suami?
Kurasakan ibu begitu berharap padaku untuk memecahkan suasana sepi di rumah, hanya dengan cara menghadiahkan seorang anak kecil sebagai cucu keturunannya. Tapi, boro- boro aku segera menikah, malahan jatuh cinta saja aku merasa kesulitan.
Mungkin ibu tak pernah merasakan sakitnya dikhianati oleh seorang pacar. Yang aku tahu, ayahku dikenal sebagai orang yang lurus- lurus saja selama hidupnya. Tak pernah kudengar cerita bahwa ayah pernah berpaling dari ibu.
Tapi itu kan ibu, bukan aku!
Ibu mungkin tak pernah menganggap kepergian calon menantunya dulu itu sebagai sesuatu yang serius. Kurasa Ibu tak pernah mendengar sengguk- guguku saat malam- malam ku mencoba merelakan Sakti pergi. Ibu tak pernah tahu bagaimana perasaanku menghadapi bayangan Sakti yang aku temui pada sosok beberapa lelaki lain yang mendekatiku. Mereka begitu berbeda dengan Sakti yang bersemayam di ruang hatiku.
Tolonglah Ibu, aku merintih dengan kenyataan berbedanya mereka dengan bayangan yang menghangatkan perasaanku.
Begitu kupendam perasaanku, justru ibu menyodorkan duda beranak dua itu. Anak- anaknya saja seumuran denganku. Walaupun Pak Barno tetanggaku itu bukan orang yang terlihat cacat di mata masyarakat, tapi tidakkah ibu tahu perasaanku? Hatiku begini sulit menerima kehadiran laki- laki lain.
Haruskah pernikahan dibangun dengan tanpa cinta sebagaimana ibu dulu yang dipertemukan untuk menikah dengan ayahku tanpa mereka pernah tahu wajahnya satu sama lain?
Maafkan anakmu ini yang terpaksa meninggalkanmu sebagaimana yang Ibu mau. Hati ini begini perih tanpa kupaham kenapa Ibu bisa memaksakan seorang Siti Amronah menjadi Siti Nurbaya?
Ibu, aku rindu padamu. Hampir satu tahun telah kutinggalkan kampung kecil di dataran tinggi Yogyakarta ini tanpa aku tahu dengan pasti bagaimana keadaan sehari- hari Ibu kini.
Sempat ku tanyakan kabar lewat tetangga kita, kudengar sekarang ibu mempunyai seorang pembantu yang membawa anaknya ke rumah yang sedari kecil menjadi tempatku bersenda gurau dan mendapatkan kasih sayangmu. Benarkah kasih sayangmu kini benar- benar menguap sedang tak pernah ku tahu adakah rindu di hatimu?
Saat- saat aku tak bisa menolak untuk berfikir, akankah lebaranku kali ini berbeda? Akankah ku sendiri? Jika aku nekatkan diri menemuimu, apakah Ibu akan mengusirku lagi?
Maka kuputuskan untuk menemuimu, dengan risiko apapun. Perjalanan enam jam di bus Patas seakan terlalu lama, ternyata ku baru sampai di terminal Giwangan. Dua kali bus masih harus kunaiki menuju kampung ibuku sambil terus mereka-reka seperti apa pertemuan nanti. Apakah ibu akan mengusirku lagi ataukah ibu akan mengijinkanku memeluknya barang sebentar? Segala kemungkinan berkecamuk di balik dadaku.
Dan saat itu pun telah tiba. Dengan jantung merontok, kudapati rumah yang dahulu menjadi latar utama kehidupanku. Namun rumah itu kini sunyi, meski aku lihat gordennya sedikit terbuka. Degup jantungku berlari tak karuan. Tak bisa kuketuk pintu dengan pelan.
“Ibuuu, bukain pintunya, Bu,” aku ingin berteriak kencang.
Sebuah langkah kaki keluar. Oups, kenapa seorang laki- laki? Kucoba teliti dari segenap penjuru ingatanku dengan wajah yang menyembul di balik kaca itu. Benarkah?
Sebelum berlama- lama ku berfikir, pintu sudah terbuka. Dan benar, Pak Barno yang membukakan pintu.
“Oh, Siti, kamu baik- baik saja kan? Ayolah masuk cepat, biar kupanggilkan ibumu,” ujarnya dengan bergegas masuk ke dalam. Mungkin ibu sedang di belakang rumah.
Sekejap kemudian, ibu sudah tergopoh menemuiku.
“Siti…,” air matanya tak terbendung dan memecah memelukku.
“Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bisa sendiri. Dan sekarang, terimalah Pak Barno sebagai ayahmu. Ibu sangat rindu kepadamu,” ibu terisak berguncang memelukku. Kueluskan tanganku di punggungnya untuk melepas kerinduanku.
Cukuplah Ibu, tak ada yang perlu dimaafkan selain aku yang belum bisa memenuhi harapanmu. Biarkan aku berjalan pelan dan bisa melihatmu bahagia sekarang. Tak ingin kulepas lagi kebahagiaan ini. # priv-er, agts 2010

FIRASAT, sebuah cerpen

Pagi ini, tidurku kembali terjaga dalam kelinglungan. Sebuah mimpi membabar kisah yang memaksaku tercenung sesaat. Aku meninggalkan rumah mencari sebuah tempat kost yang kiranya cocok untuk hati dan kantongku. Sebagai tenaga honorer yang masih baru, entah jadi honorer apa, nampaknya mimpiku tak memberi keterangan lebih rinci. Yang jelas penghasilanku terlalu pas- pasan untuk menyewa tempat tinggal. Namun semua harus kulakukan, entah untuk apa, alasan yang tidak secara jelas diceritakan dalam mimpi.
Maka aku menyusuri kawasan di pinggir sebuah perguruan tinggi. Tentu banyak tempat kost di sana. Ku cari yang bertarif agak miring, tentu dengan konsekuensi tempat kurang memadai. Setelah mencari kian kemari, akhirnya kutemukan pilihan yang lebih murah. Kata bapak kost, tempatnya bukan di samping rumah beliau, tapi di dekat kebun miliknya. Beberapa ratus meter harus berjalan, akhirnya ku ditunjukkan ruang yang dimaksud.
Sekejap ku dapat melihat petak rumah yang terdiri dari satu kamar utama. Entah ada kamar mandi atau tidak, entah ada dapur atau tidak. Beberapa meter di pojok belakang rumah, ada seekor sapi ditambatkan. Tanpa kandang. Kotorannya menumpuk demikian saja. Uh…..kelihatannya basah. Aku dapat membayangkan bagaimana telethong itu akan merembet airnya kemana- mana saat hujan tiba. Apalagi musim hujan seperti sekarang. Tentu kemarin dan kemarinnya lagi kotoran itu telah kena air hujan.
Kulihat lebih jauh, di sebelah sana, secara berjejer juga masih ada beberapa sapi dalam posisi yang sama. Pun masih juga petak rumah kecil di pojokannya. Seakan rumah- rumah itu adalah rumah bagi seorang penunggu yang merawat masing- masing sapi itu.
Menerima kost ini, berarti aku harus menghilangkan bayangan bahwa aku akan tinggal bersama lalat- lalat yang kemungkinan akan berkeliaran dari tumpukan kotoran sapi di pojok rumah kost ini. Kuteliti kembali. Hmmm, kurasa di dalam rumah kost ini tak banyak juga lalat seperti yang kutakutkan.
Membayangkannya lebih jauh, aku tak ingin terlalu memikirkan. Yang harus aku pikirkan, seberapa sisa gaji yang dapat aku sisihkan dari honor mengajarku. Sekiranya, sisa honor akan cukup kugunakan untuk membayar kost di sini. Jika mencari yang sedikit lebih layak, aku sendiri tak percaya untuk dapat membayarnya tanpa tersengal- sengal.
Hampir saja aku mengiyakan kepada pemilik kost untuk tinggal di sini. Aku tergeragap bangun. Kesadaranku sedikit demi sedikit mulai pulih. Memang kisah menengok rumah kost di dekat tambatan sapi itu tidaklah nyata, tetapi setting yang melatarinya hampir sama. Tak mampu aku mengelak pada pertanyaan mengapa bunga tidurku harus mirip dengan yang ada di pikiranku selama ini.
Aku ingin pergi dari rumahku. Lebih tepatnya, ingin pergi dari rumah rang tuaku ini. Sesak yang selama ini kurasakan bisa aku tahan, tapi tampaknya aku musti bertindak agar tidak terus- terusan ku memendam bara dalam diriku.
Dua tahun yang lalu, kakak keduaku meninggalkan rumah ini dengan sebuah paksaan. Diusir.
Ini seperti cerita kuno yang sudah jarang ditemui. Mungkin hanya ada dalam cerita- cerita masa lalu mengenai seorang anak yang diusir oleh orang tuanya karena si anak telah membuat aib yang terlalu membuat orang tua murka. Atau, karena si anak kawin lari dan memilih pasangan hidup yang tak direstui orang tua. Kalau tidak, boleh jadi karena si anak terlalu durhaka hingga orang tua mengusir dan mengutuk. Sedikit mirip dengan kutukan bagi Malin Kundang.
Tapi ini bukan cerita klasik masa lalu, meskipun tak lepas dari kepercayaan orang- orang jaman dulu yang percaya dengan dukun. Ayahku kena pelet. Begitu kata orang- orang.
Aku sendiri tak terlalu percaya tentang pelet, namun orang- orang di kampung ini masih mempercayainya. Bahkan, pamanku sendiri, dalam sikap diamnya, ia pernah bercerita kepadaku. Paman mendatangi seorang dukun yang tinggal di pinggiran pantai selatan. Sang dukun mengatakan alasan kenapa kakak laki- laki paman, yang selama 25 tahun menjadi rang tuaku itu, telah berubah sikap dan perilakunya. Ya, kata si dukun, ayahku telah dipelet. Meski tak terang- terangan menyebut siapa dalang yang menanam guna- guna itu, tapi menyiratkan bahwa pelakunya adalah saudara angkat kami.
Sudah begitu, beberapa bulan yang lalu, insiden pengusiran itu kembali terjadi. Kali ini terjadi pada kakak pertamaku. Entah karena alasan apa, aku sendiri malas untuk membahas ataupun memikirkannya. Mungkin ayah sedang gelap mata.
Yang harus aku waspadai, kini tinggal menunggu giliranku jika pengusiran itu akan terjadi pada semua anak kandung ayah.
“Savitri, apa saja yang kau lakukan di rumah? Manusia tak berguna. pergi kau!” Kalimat itu seakan- akan menggantung dan akan terjadi pada aku, anak kandung yang aling bontot.
Sebelum semua itu terjadi, aku harus berjaga- jaga. Ya, aku memang akan mencari tempat tinggal untuk pergi dari rumah ini. Aku selalu memikirkan itu, meski kepalaku serasa pusing saja jika mengingat hal itu. Aku sadar kemampuan. Apakah aku akan menemui kejadian serupa dengan mimpiku tadi malam?
Aku lalu pergi, selagi hari masih pagi. Bukan untuk apa- apa. Sementara ini aku hanya ingin menghirup udara segar. Aku ingin jalan- jalan dan lari kecil. Hitung- hitung sebagai olah raga ringan sembari menyegarkan pernafasan dan pikiran.
Aku mengitari kampung, lalu ke arah jalan raya, agak jauh. Kupikir.jalan yang lebih halus dan rata akan lebih baik daripada aku tersandung kerikil- kerikil di jalanan sini. Jika aku melepas sandal, bukannya dapat sehat sebagaimana pijat akupunktur, tapi hanya akan kesakitan yang kurasakan di kakiku.
Apa yang terjadi dalam mimpi tadi terus membuntuti. Sebagaimana kini aku ingin melarikan diri dari rumah, meskipun hanya sementara. Langkah- langkah kecil di kaki ini kukira sudah cukup lumayan untuk meminimalisir keinginan minggat dari rumah.
Ya, terlalu kasarkah jika memang intinya aku ingin minggat? Apa aku akan menjadi anak durhaka yang menghilang dari hadapan rang tua di usianya yang menginjak senja? Mana ucapan terima kasih dan bakti seorang anak yang dibesarkan selama puluhan tahun oleh ayah dan ibunya?
Ah…….Aku berlari kencang dan ingin menghambur menuju gerbang lain yang lebih nyaman dari dunia ini. Terus berlari dan berlari, tak hirau dengan jalanan yang mulai dilewati mereka yang mulai berangkat pasar.
Seakan kurasa sesuatu memburuku. Aku merasa harus segera pergi, secepat apa yang dapat aku lakukan. Secepatnya. Semakin kencang kularikan tubuhku, seperti kesetanan aku tak peduli untuk berteriak. Tak kusadari dimana aku berlari. Aku berteriak sekencang- kencangnya. Seperti hendak melompat, tapi tak bisa. Tak ada waktu untukku sadar dengan apa yang terjadi. Sesuatu hampir tercerabut. Semua terlambat untuk aku sadari. Dan aku tak ingat apa yang terjadi, hingga kurasakan tubuh ini berada dalam sebuah mobil yang juga berlari kencang. Disertai suara bising meminta perhatian supaya didahulukan untuk melenggang mencari jalan. pvroom, 18 des 2010

ARIE

Entah berapa Arie telah aku kenal. Namun Arie yang satu ini aku yakin bukan sebenar- benarnya Arie. Biarlah namanya kucatat sendiri dalam memoriku.
Semestinya sudah lama aku mengenalnya, tapi entah kenapa baru intens dan didekatkan beberapa bulan ini. Ini sebuah de javu. Aku seperti telah lama mengenalnya. Mulanya seperti “Heri Suheri”, kakak yang sempat memanjakanku seolah aku ini anak kecil. Maklumlah, saat itu aku sedang sweet seventeen. Lalu, ku merasa ia seperti Kak Marten (Marten Rosevelt Tendean) yang cara ketawanya selalu berkesan dalam ingatanku. Tawa yang seperti bulir jagung jatuh ke bumi dan tawa itu akan menggantikan peran air saat hujan. Ups, ngeri bukan?
Yup, Kak Marten yang suka membalas kiriman suratku berlembar- lembar, memakai tinta boxy, dengan tulisan tangan yang miring sebagaimana orang- orang tua jaman dulu. (Ohoi….ini sudah mau hari Natal, tentu kakakku itu sedang berbahagia. Lama sudah aku tak pernah tahu kabarnya. Kabar terakhir duluuuu sie kudengar ia menjadi asisten dosen di almamaternya)
Setelah kembali ku sadari bahwa Arie bukan juga pas kupersamakan dengan Kak Marten, semakin hari kurasakan ia seperti Raka, Raka-ku yang kini “hilang” bersama jalan yang dipilihnya untuk meninggalkanku. Sebagaimana Raka, Arie mengorek dan asik dengan ketakjubannya yang sementara. Ia yang selalu mendengar segala cerita dan keluh kesahku, dengan komentar sekadarnya, selalu bisa menciptakan suasana nyaman untukku. Dia yang tak banyak cakap, namun perhatiannya kurasakan sangat dalam. Jarang sekali menghakimiku meski bukan berarti serba meng-iya-kan tindakanku. Begitu memahamiku.
Ya, keduanya pintar mengambil hati. Sebagaimana Raka yang aku ingat sangat fasih dalam hal kiat- menaklukkan hati perempuan. Ditambah lagi dengan tipologinya saat menanam ambisi, pelan tapi pasti tentu akan dikejar. Sedikit banyak ini kubaca dari seorang Arie. Pendekatan personal, sesuatu yang tak pernah luput dari perhatiannya.
Kemiripan ini kentara kurasakan ketika Arie melototkan ucapannya (bukan memelototkan mata, namun memelototkan ucapannya). Penekanan yang coba dia sampaikan, bahwa aku seorang manusia dengan fisik sempurna, tentunya punya potensi untuk berhasil meraih keinginan dan cita- cita. Maya yang semestinya “bisa” dan bisa mengenyahkan halangan- halangan kesendiriannya.
“Maya, kamu itu wanita yang cantik, bla-bla-bla,” terasa ngiang ucapan itu hadir kembali saat Arie mengatakan,” Coba kamu perhatikan itu, resapkan,” sambil memelototkan bahwa aku bisa seperti mereka.
Sejurus dengan momen dengan Raka yang hampir genap lima tahun lalu itu. “Maya, bayangkan jika aku meninggalkanmu saat ini,” sebuah tatapan sayang menusukkan pengertian yang ingin ia hujam. Tepat di ulu hatiku hingga air mata langsung membanjir disertai senggukan yang melompat tinggi.
Dalam kebersamaan dengan Arie, kembali kudapatkan hantaman saat Arie mengatakan,” Kamu musti membiasakan diri dalam kesendirian.” Yup, meski kadar hantamannya lebih lunak, aku seperti hadir kembali dalam suasana bersama Raka.
“Puih, apa- apaan ini?,” aku membela dalam hati. Apa dia pikir selama ini aku menjadi makhluk lemah yang harus dipapah dalam kebersamaan? Hanya senyum sinis kutujukan pada diri sendiri saat dia sebutkan argumen yang menguatkan sinyalemennya.
Untung saja Arie segera memberikan sedikit paparan yang melunak dan kembali memberikan impresi pada kalimat berikutnya.
“Semua orang yang kita cintai bakalan pergi, cepat atau lambat,” jelasnya singkat.
Dus. Aku seperti mendengar kembali ungkapan Raka itu,” Maya, bayangkan jika aku meninggalkanmu saat ini!”
Kembali hanya tangis menyatu dalam senyum. Nyinyit.
Dalam bahasa lain, aku teringat lagu yang sempat mempesona pendengaranku, “Tak Ada yang Abadi” milik Peterpan. Dan aku selalu merindukan untuk mendengar kembali lagu itu.
Ya, sesuatu yang baru, sebagaimana sebuah mainan baru, tak ingin hati melepas dari genggaman. Erat. Seakan tak rela ia terjamah orang lain, minimal untuk saat ini. Satu kesadaran yang selalu diingatkan Arie,” Suatu saat kita tidak bisa seperti ini lagi.”
Yup, kau akan pergi, tapi biarlah kubangun sebuah prasasti dari kebersamaan saat ini.
Kamu yang senang menyimpan sebagian besar milikmu, yang hanya membagikan secuil untukku, sama seperti Raka-ku yang bersenyawa dalam sumsumku. Raka yang selalu menyelimutiku saat dini hari, sebelum datangnya cahaya matahari. Embun yang menetes merelakan diri lenyap saat kusambut hangatnya pagi. Yup, saat aku pertamakali jatuh cinta ada “Sebelum Cahaya” Letto yang menjadi momentum keterpisahanku dengan Raka.
Arie, kamu bukanlah Raka. Kamu bukanlah dia yang bersemayam sebagai kekasih hatiku. Kamu adalah adikku. Adikku yang manja, nakal dan menjadi penghibur kakakmu.
Tak banyak ukiran yang bisa aku pahat dari kebersamaan kita, tapi kamu menempatkan diri dalam ruang hatiku. Duduk manis di situ sambil tersenyum manis untukku.
Dengan kesadaran yang penuh, dalam kebersamaan ku selalu ingat bahwa segala sesuatu ada risikonya. Pun dengan aku dan kamu. Berbagi isi hati berisiko untuk kelihatan bodoh. Berbagi kuping berisiko terlibat. Meski jarak sengaja kamu bangun, tak apa. Aku akan selalu bahagia tatkala kamu mengekspresikan sebagai diri sendiri. Biarlah, selagi kamu mampu menikmati perjalanannya.
Banyak nama Arie yang aku kenal. Mulai dari Arie yang lugu- konvensinal- kemayu, Arie yang ayu kemuayu plus sok-sokan, Arie yang alim- humoris, Arie yang oportunis, Arie yang brengsek, ataukah Ari yang kecil mungil anak tetanggaku, dan seabreg Arie yang lain. Tapi ini adalah catatan tentang Arie adikku.
Terima kasih Arie. Aku sayang dan respect ke kamu. Satu harap, sebagaimana orang- orang istimewa dalam hidupku, aku berharap akan menjumpaimu datang memberi jabat tangan saat aku menikah kelak. (So sweet) Amiin.

PANDUAN OLAH RAGA BAGI IBU HAMIL DAN MENYUSUI, sebuah resensi

Anda tahu mengapa banyak wanita hamil yang terlihat jalan kaki di pagi hari? Tentu ada alasannya, mengingat kondisi sehat dan bugar adalah kebutuhan semua orang, termasuk untuk wanita hamil. Lebih dari itu, jalan kaki merupakan jenis olah raga bagi wanita hamil yang dianjurkan untuk memperlancar proses persalinannya kelak.
Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari olah raga selama proses kehamilan. Olah raga akan membantu menyeimbangkan beberapa otot tubuh yang lemah akibat proses kehamilan. Dengan olah raga, sirkulasi darah dalam tubuh berjalan lancar sehingga tubuh lebih efisien dalam memompa oksigen untuk kebutuhan janin. Bagi sang ibu, hal ini membantunya untuk berjalan dengan tegak, mencegah terjadinya varises serta mengurangi dampak negatif kehamilan seperti sakit kepala, kelelahan, pembengkakan karena penimbunan cairan, sembelit serta memperbaiki kesehatan emosi.
Jalan kaki adalah olah raga pilihan dalam segala periode kehamilan, sejak awal kehamilan hingga menjelang persalinan. Olah raga lain yang disarankan bagi wanita hamil meliputi bersepeda statis, yoga, berenang, latihan beban dan senam kehamilan untuk mempertahankan stamina yang prima menghadapi proses persalinan.
Senam hamil sebaiknya dilakukan secara teratur dengan tujuan untuk menjaga kondisi otot dan persendian yang berperan dalam mekanisme persalinan. Senam hamil mempertinggi kesehatan fisik dan psikis serta kepercayaan diri. Wanita hamil yang melakukan olah raga secara teratur bisa mendapatkan efek menenangkan dari olah raga tersebut sehingga tubuh terasa rileks, menurunkan stres, membuatnya lebih bersemangat dan percaya diri dalam menghadapi persalinan secara normal. Di sinilah hadirnya buku Panduan Lengkap Olah Raga bagi Wanita Hamil dan Menyusui coba memberikan paparannya secara detail mengenai tahapan, tempat, teknik dan syarat mengikuti senam kehamilan.
Tak cuma sampai di situ, buku ini selanjutnya memberikan panduan senam untuk ibu menyusui serta senam untuk mengembalikan postur tubuh agar kembali seperti semula.
Paska kehamilan, memang seyogyanya ibu melakukan olah raga, diantaranya dengan senam nifas. Namun kenyataannya, senam nifas acapkali diabaikan oleh ibu- ibu paska melahirkan dengan berbagai alasan. Diantaranya, karena memang tidak tahu caranya, karena terlalu bahagianya sehingga yang dipikirkan hanya si kecil atau ungkapan yang lain, boro- boro senam, untuk bangun saja sakit.
Namun alasan terakhir ini akan terpatahkan apabila ibu- ibu mengetahui bahwa senam nifas agar ibu teta merasa sehat ini sangat sederhana dan mudah dilakukan. Buku ini memberikan panduan senam untuk ibu menyusui yang mencakup senam nifas untuk 24 jam pertama usai melahirkan, senam nifas selama 40 hari dan sesudahnya. Lebih menyenangkan lagi, ibu- ibu tetap dapat menikmatinya dengan memilih olah raga yang nyaman bagi dirinya sendiri bersama si buah hati, misalnya menggendong bayi di punggung dan berjalan sedikitnya satu jam sehari.

Baru kemudian pembaca diajak mengetahui senam untuk mengembalikan bentuk tubuh disertai panduan- panduan lain agar ibu- ibu bisa segera kembali menggunakan pakaian yang biasa dikenakannya sebelum hamil.
Ibarat obat bebas terbatas, buku ini memang berisi panduan lengkap olah raga bagi wanita hamil dan menyusui. Namun demikian, untuk pelaksanaannya harus senantiasa berkonsultasi dengan dokter atau ahlinya mengingat kondisi tubuh masing- masing ibu berbeda. Kondisi kesehatan ibu sebelum, pada saat, maupun sesudah persalinan memiliki karakteristik yang berbeda- beda sehingga olah raga yang dipilihnya harus disesuaikan. Di sinilah pentingnya dokter kebidanan untuk menentukan boleh tidaknya olah raga tersebut dilakukan. (dibuat beberapa bulan yg laluuuu)

PETASAN, MASIH SAJA MEWARNAI RAMADAN

Seorang anak dengan bersemangat menceritakan bahwa dirinya baru saja menyulut mercon leo. Apa itu mercon leo? Ditanya demikian, dengan bersemangat pula ia menggambarkan bahwa petasan yang disebutnya mercon leo itu dibuat dengan kertas yang digulung- gulung sehingga membentuk selongsong untuk kemudian diisi obat mercon yang disebut karbit.
Lebih lanjut ia menjelaskan, setelah gulungan kertas diisi dengan obat karbit, kreasi petasan tersebut ditutup dengan meneteskan lilin sebagai lem sehingga kertas- kertas tadi akan terlihat rapi. Jangan lupa, harus ada lilitan kertas yang sedikit ditarik keluar sebagai pemicu agar ketika dibakar maka apinya akan merembet dan membakar obat mercon yang ada di dalam. Jika pembuatannya berhasil dengan sempurna, petasan akan menimbulkan ledakan. Besar kecilnya suara tergantung dari banyaknya obat serta kepiawaian dalam membentuk petasan.
Demikian bersemangatnya si anak bercerita, tentu sedemikian bersemangat pula ketika ia bermain- main dengan petasannya. Bahkan, ia sendiri mengaku kesakitan ketika petasan itu mengenai tangan. Toh, ia katakan tangan yang sempat sedikit melepuh itu sudah akan sembuh. Seakan ia ingin mendahului sebuah nasihat yang akan diterimanya, sekadar untuk menghilangkan rasa khawatir bagi orang yang diajaknya bercerita.
Entah dari mana anak berusia sepuluh tahun ini mendapatkan ketrampilan membuat petasan. Memang, dari sekawanan anak- anak, tak selamanya mereka mampu membeli petasan. Maka, ketrampilan membuat petasan ini menjadi bentuk kreativitas yang dirasakan pas di tengah keterbatasannya dalam memenuhi keinginan bermain petasan.
Berbeda dengan anak yang mempunyai uang saku berlebih. Tak masalah baginya mengeluarkan uang untuk membeli petasan. Hal ini didukung dengan kenyataan mudahnya mereka menjangkau penjual petasan. Meski sudah dilarang, kita masih dapat menjumpai para penjual petasan yang menggelar dagangannya di jalan. Tinggal menyerahkan uang, maka penjual akan menukarnya dengan petasan sesuai keinginan anak- anak ini. Tak heran jika suara petasan dan anak- anak yang menyulutnya pun masih sering kita temui.
Dari sini kita dapat menengok ulang bahwa petasan adalah sebuah ironi. Polisi sering mengancam para pembuat dan penjual dengan UU Darurat No 12 Tahun 1951 tentang bahan peledak, utamanya tentang penguasaan/pemilikan dan penjualan bahan peledak berbahaya di tempat umum tanpa izin. Bahkan ancaman hukuman maksimalnya bisa mencapai 20 tahun penjara.
Namun ironisnya, penjual di pinggir jalan pun banyak. Boleh jadi dalam gelaran dagangannya para penjual menonjolkan kembang api sebagai dagangan utama karena kembang api memang tidak dilarang. Namun penjual musiman ini acap kali menyediakan petasan juga diantara barang dagangannya. Seakan mereka melupakan larangan petasan. Toh, satu-dua contoh korban petasan pun masih dapat kita temui di media.
Suyono salah satunya. Dua hari menjelang Ramadhan, lelaki 45 tahun asal Bangkalan Madura itu membuat kaget warga ketika melintas di jalan. Dia mengendarai sepeda motornya untuk mengangkut dua karung petasan yang dipersiapkannya untuk dijual pada Ramadhan ini. Naas, sebelum niat itu terlaksana, ia harus merelakan motornya terbakar. Cara mengangkut yang Suyono lakukan terlampau rendah hingga gesekan dengan aspal menyebabkan timbulnya api. Terbakarlah motor itu hingga sekadar menyisakan kerangka saja. Untung Suyono segera menyadarinya sehingga nyawanya terselamatkan. Peristiwa ini seolah kembali mengingatkan bahwa petasan bisa mengancam keselamatan orang.
Berdagang petasan adalah tindakan yang tak dapat dibenarkan, apalagi memproduksinya untuk diperjual-belikan. Baru- baru ini kita mendengar adanya operasi penggerebekan pabrik petasan di kabupaten Magelang (21/8). Hasilnya, disita seribu selongsong petasan siap isi dan 2 kg bahan peledak petasan. Tentu ini hanyalah sebuah fenomena gunung es diantara kenyataan banyaknya petasan yang bisa diperoleh di pasaran dengan relatif mudah.
Tak heran jika operasi penertiban pedagang petasan musiman ini kerap kali kita dengar di media. Diantaranya, penangkapan yang dilakukan aparat dari Poltabes Ygyakarta di Jalan Magelang (6/10) yang berhasil menyita 750 ribu butir petasan yang hendak disetorkan kepada pemesan. Penertiban semacam ini juga berlangsung di daerah- daerah lain di Indonesia. Toh, petasan masih saja ada dan relatif mudah didapatkan.
Jika beberapa tahun yang lalu ada anggapan bahwa Ramadan identik dengan petasan, kini anggapan tersebut mulai berkurang, meski tetap saja ada. Apalagi pada hari- hari tertentu saat anak- anak libur sekolah. Kita patut merasa beruntung, dengan dilarangnya petasan beberapa tahun terakhir, secara umum frekuensi penyulutan petasan menjadi berkurang. Berita mengenai korban akibat petasan pun tidak seramai beberaa tahun yang lalu. Boleh jadi ini merupakan bukti kesadaran masyarakat untuk mengesampingkan keinginan menyulut petasan yang harus diperolehnya dengan uang.
Awal Ramadan lalu, sebuah peringatan disampaikan oleh Ustadz Abdul Karim, pengasuh salah satu pondok pesantren di Lampung. Diingatkannya bahwa membeli petasan merupakan perilaku konsumtif yang membutuhkan antisipasi. Sebab, dalam tuturannya, petasan menjadikan anak-anak tidak produktif dan tidak kreatif.
"Efek pembelian dan penggunaan petasan sangat tidak baik bagi anak-anak karena membuat mereka tidak hemat dalam menggunakan uang sehingga membuat mereka terdoktrin untuk hura-hura. Meski setiap orang dalam hal menggunakan petasan mempunyai hak asasi, namun kebebasan seseorang itu dibatasi orang lain dan lingkungan. Meski setiap orang mempunyai hak asasi namun ada batasnya, tidak bisa menyalakan petasan semaunya sendiri, ada tetangga dan lingkungan yang harus diindahkan," papar Abdul Karim.
Di lain pihak, ini merupakan hasil dari sosialisasi dan upaya penertiban yang dilakukan oleh aparat sehingga memangkas jalur produksi dan pendistribusian petasan. Dengan meminimalisir jalur perdagangan petasan dari awal, kemungkinan sampainya petasan hingga ke tangan konsumen pun diperkecil kemungkinannya.
Dengan menurunnya konsumsi petasan, diharapkan ibadah masyarakat dalam bulan suci Ramadan semakin khusyuk dan tidak terganggu. Bunyi petasan sudah pasti mengganggu ketertiban umum karena menimbulkan kebisingan akibat bunyi petasan yang mengganggu lingkungan. Belum lagi bahaya yang mengancam apabila petasan mengenai diri penyulut, orang lain maupun barang- barang yang ada di sekitarnya.
Hal negatif lain yang ditinggalkan petasan adalah sampah sisa petasan yang akan mengotori lingkungan. Jarang sekali kita temui penyulut petasan yang dengan sukarela membersihkan sampah sisa pembakaran petasannya, bukan?
Hal kondusif semacam ini hendaknya dilakukan secara berkesinambungan, tidak hanya di awal- awal Ramadan saja. Dengan demikian, diharapkan para produsen dan pengecer tidak memanfaatkan kelengahan petugas yang tampaknya mengendor dalam pengawasannya pada peredaran petasan selama pertengahan Ramadhan. Jangan sampai mereka menyusun kekuatan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar pada akhir masa Ramadan dan menjelang hari raya Idul Fitri.  *dibuat saat Ramadhan 2010 yll