mayadefitri

Wednesday, December 22, 2010

PERTEMUAN, sebuah cerpen

Kenapa aku begini gelisah ya? Kenapa aku tidak bisa menyelesaikan persoalanku sendiri? Sejak Ramadan belum datang, perasaan ini kembali mengaduk- aduk ulu fikirku.
Entah, harus kukatakan apa dan bagaimana. Jika kau menginginkanku untuk bercerita seperti sekarang, yang kutemui tentulah suatu kebingungan. Seperti juga sekarang yang kurasakan ketika ingin mengajakmu berbicara dan mencurahkan perasaanku.
Baiklah. Akan kucoba menguraikan sedikit demi sedikit. Sebuah ingatan, itulah yang aku rasakan saat ini.
Braaaak.
“Pergi kamu dari rumah ini. Jangan pernah lagi kau injak tanah ini. Dan jangan pernah kau panggil lagi aku dengan sebutan ‘Ibu’. Aku bukan ibumu lagi. Ingat itu,” tak kusangka aku akan mendengar kata- kata itu. Bahkan membayangkan pun aku belum pernah.
Kurasakan ibuku memang sedikit berubah dari yang aku rasakan selama hidupku. Dulu ia begitu sabar dan menyayangiku sebagai anak tunggalnya. Hampir tak pernah ada kata ataupun perilakunya yang terlalu menyinggung perasaan. Sehebat- hebatnya aku bermasalah dengannya, tak kan sanggup aku bermusuhan dan berada dalam keterdiaman dengannya. Paling- paling, cukup satu hari dan kami pun akan berbaikan kembali.
Sejak ayahku meninggal, entah kenapa ibu kurasakan menggebu- gebu keinginannya untuk menimang cucu. Padahal, bagaimana mungkin aku akan memberikannya seorang cucu dari rahimku jika aku belum memiliki seorang suami?
Kurasakan ibu begitu berharap padaku untuk memecahkan suasana sepi di rumah, hanya dengan cara menghadiahkan seorang anak kecil sebagai cucu keturunannya. Tapi, boro- boro aku segera menikah, malahan jatuh cinta saja aku merasa kesulitan.
Mungkin ibu tak pernah merasakan sakitnya dikhianati oleh seorang pacar. Yang aku tahu, ayahku dikenal sebagai orang yang lurus- lurus saja selama hidupnya. Tak pernah kudengar cerita bahwa ayah pernah berpaling dari ibu.
Tapi itu kan ibu, bukan aku!
Ibu mungkin tak pernah menganggap kepergian calon menantunya dulu itu sebagai sesuatu yang serius. Kurasa Ibu tak pernah mendengar sengguk- guguku saat malam- malam ku mencoba merelakan Sakti pergi. Ibu tak pernah tahu bagaimana perasaanku menghadapi bayangan Sakti yang aku temui pada sosok beberapa lelaki lain yang mendekatiku. Mereka begitu berbeda dengan Sakti yang bersemayam di ruang hatiku.
Tolonglah Ibu, aku merintih dengan kenyataan berbedanya mereka dengan bayangan yang menghangatkan perasaanku.
Begitu kupendam perasaanku, justru ibu menyodorkan duda beranak dua itu. Anak- anaknya saja seumuran denganku. Walaupun Pak Barno tetanggaku itu bukan orang yang terlihat cacat di mata masyarakat, tapi tidakkah ibu tahu perasaanku? Hatiku begini sulit menerima kehadiran laki- laki lain.
Haruskah pernikahan dibangun dengan tanpa cinta sebagaimana ibu dulu yang dipertemukan untuk menikah dengan ayahku tanpa mereka pernah tahu wajahnya satu sama lain?
Maafkan anakmu ini yang terpaksa meninggalkanmu sebagaimana yang Ibu mau. Hati ini begini perih tanpa kupaham kenapa Ibu bisa memaksakan seorang Siti Amronah menjadi Siti Nurbaya?
Ibu, aku rindu padamu. Hampir satu tahun telah kutinggalkan kampung kecil di dataran tinggi Yogyakarta ini tanpa aku tahu dengan pasti bagaimana keadaan sehari- hari Ibu kini.
Sempat ku tanyakan kabar lewat tetangga kita, kudengar sekarang ibu mempunyai seorang pembantu yang membawa anaknya ke rumah yang sedari kecil menjadi tempatku bersenda gurau dan mendapatkan kasih sayangmu. Benarkah kasih sayangmu kini benar- benar menguap sedang tak pernah ku tahu adakah rindu di hatimu?
Saat- saat aku tak bisa menolak untuk berfikir, akankah lebaranku kali ini berbeda? Akankah ku sendiri? Jika aku nekatkan diri menemuimu, apakah Ibu akan mengusirku lagi?
Maka kuputuskan untuk menemuimu, dengan risiko apapun. Perjalanan enam jam di bus Patas seakan terlalu lama, ternyata ku baru sampai di terminal Giwangan. Dua kali bus masih harus kunaiki menuju kampung ibuku sambil terus mereka-reka seperti apa pertemuan nanti. Apakah ibu akan mengusirku lagi ataukah ibu akan mengijinkanku memeluknya barang sebentar? Segala kemungkinan berkecamuk di balik dadaku.
Dan saat itu pun telah tiba. Dengan jantung merontok, kudapati rumah yang dahulu menjadi latar utama kehidupanku. Namun rumah itu kini sunyi, meski aku lihat gordennya sedikit terbuka. Degup jantungku berlari tak karuan. Tak bisa kuketuk pintu dengan pelan.
“Ibuuu, bukain pintunya, Bu,” aku ingin berteriak kencang.
Sebuah langkah kaki keluar. Oups, kenapa seorang laki- laki? Kucoba teliti dari segenap penjuru ingatanku dengan wajah yang menyembul di balik kaca itu. Benarkah?
Sebelum berlama- lama ku berfikir, pintu sudah terbuka. Dan benar, Pak Barno yang membukakan pintu.
“Oh, Siti, kamu baik- baik saja kan? Ayolah masuk cepat, biar kupanggilkan ibumu,” ujarnya dengan bergegas masuk ke dalam. Mungkin ibu sedang di belakang rumah.
Sekejap kemudian, ibu sudah tergopoh menemuiku.
“Siti…,” air matanya tak terbendung dan memecah memelukku.
“Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bisa sendiri. Dan sekarang, terimalah Pak Barno sebagai ayahmu. Ibu sangat rindu kepadamu,” ibu terisak berguncang memelukku. Kueluskan tanganku di punggungnya untuk melepas kerinduanku.
Cukuplah Ibu, tak ada yang perlu dimaafkan selain aku yang belum bisa memenuhi harapanmu. Biarkan aku berjalan pelan dan bisa melihatmu bahagia sekarang. Tak ingin kulepas lagi kebahagiaan ini. # priv-er, agts 2010

0 Comments:

Post a Comment

<< Home