mayadefitri

Monday, July 03, 2006

ATM KONDOM DAN PENDIDIKN SEKS, sebuah opini

ATM KONDOM DAN PENDIDIKAN SEKS
Oleh: Maya Fitrianingsih

Lagi-lagi, perbincangan mengenai perlu tidaknya
merealisasikan rencana ATM kondom di Yogyakarta,
beserta 9 kota lainnya, mengemuka. Pro-kontra ini
biasanya didasarkan atas 2 alasan utama. Bagi yang
kontra, didasarkan pada kekhawatiran bila ATM kondom
ini menjadi sarana melegitimasi pergaulan bebas.
Sedangkan pihak yang sepakat mendasarkan pada
pentingnya mencegah penularan penyakit menular seksual
(PMS) dan AIDS.
Pergaulan Bebas
Publisitas yang mengatakan bahwa tak kurang dari 75
prosen mahasiswi di Yogyakarta tidak virgin lagi,
diakui telah membawa dampak yang besar bagi pencitraan
wajah Yogyakarta sebagai kota pelajar. Yogyakarta tak
ubahnya seperti daerah-daerah lain yang mulai
terkontaminasi budaya sekuler. Meski pergaulan bebas
tidak sekadar ada dalam masyarakat barat, pada masa
lalu hal ini hanya menjadi bagian undercover dari
kehidupan masyarakat kita. Kini, terjadi pergeseran
dari hal-hal yang bersifat tersembunyi menjadi lebih
terbuka.
Pergaulan anak muda yang lebih terbuka ini, diakui
sebagai konsekuensi dari keterbukaan informasi yang
melanda secara global. Penetrasi budaya merupakan
konsekuensi dari menguatnya interaksi
ekonomi-sosial-budaya itu sendiri. Nilai-nilai yang
semula ada pun mulai dipandang sebagai sesuatu yang
tradisinal nan puritan.
Yogyakarta dengan ratusan sarana pendidikan tingginya,
ditunjang dengan biaya hidup yang relatif rendah,
suasana yang lebih kondusif dan sebagainya
menjadikannya sebagai kota idaman mencari ilmu. Ketika
jumlah mahasiswa (dan pelajar secara umum) luar
terakumulasi di Yogyakarta, melemahnya kontrol orang
tua terhadap keseharian anaknya, jika tidak hati-hati
memberi kerawanan tersendiri.
Dari sisi usia, mahasiswa merupakan usia di ujung
remaja menuju tahap peralihan ke arah yang lebih
dewasa. Tentu saja ini menjadi usia riskan. Usia
dewasa yang identik untuk melazimkan adanya
pernikahan. Perkawinan merupakan sesuatu yang bersifat
naluriah, sementara kebutuhan biologis dalam artian
seksual mulai tumbuh mengemuka saat remaja. Pada masa
kuliah inilah menjadi tahapan dengan kematangan fisik
dan mulai menjelang ke arah kematangan berfikir.
Artinya, masa muda, katakanlah masa kuliah, menjadi
masa pancaroba, tanpa menghilangkan sisi have fun.
Ketika faktor ini bertemu dengan faktor lain seperti
adanya resapan budaya luar sehingga sebagian dari
mereka melegalkan perilaku bebas ini. Dan ini menjadi
tantangan yang berat bagi predikat Yogyakarta sebagai
kota pendidikan.
Lihat saja realitas yang teramati oleh kita, bagaimana
frekuensi alat kontrasepsi kondom yang dikatakan
meningkat beberapa kali lipat pada akhir pekan,
khususnya di jalur daerah yang banyak komunitas
mahasiswanya sampai ke tempat rekreasi dan hiburan.
Lihat pula perilaku sopan-santun yang mulai melebar,
dimana banyak terjadi perilaku bermesraan di depan
umum. Hal ini lumrah kita lihat di ruang-ruang publik
kita. Lalu, moralitaslah yang kemudian dipertanyakan.
Benturan cara pandang generasi muda dan generasi tua/
terdahulu pun menjadi perbincangan yang berakhir pada
kekhawatiran generasi tua akan menebalnya tingkat
permisifitas anak-anak mereka.
Ketika alat kontrasepsi kondom, yang semula menjadi
barang privat yang hanya digunakan di wilayah privat
antara suami-istri untuk mencegah kehamilan, kini
menjadi barang yang umum dipakai untuk mencegah
kehamilan oleh pasangan ilegal. Perbincangan dan cara
belinya pun tak perlu lagi malu-malu seperti juga pada
pemenuhan kebutuhan primer lain.
Realisasi pengadaan ATM kondom dikhawatirkan akan
mempermudah cara mendapatkannya, dan pada akhirnya
melegitimasi pergaulan bebas itu sendiri. Kurang
diketahui pasti, berapa prosentase pengguna kondom
dibanding dengan penggunaan alatkontrasepsi lain,
berapa pula prosentase penggunaan kondom oleh pasangan
ilegal dibanding pada pasangan legal (perkawinan).
Yang jelas, alat kontrasepsi kondom tergolong paling
mudah dan cukup egfektif untuk mencegah kehamilan.
Pencegahan Penularan PMS dan AIDS
Di sisi lain, manfaat terpenting dari penggunaan
kondom adalah mencegah penularan penyakit kelamin/
penyakit menular seksual (PMS) termasuk di dalamnya
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Terlebih
dengan menggejalanya penyebaran AIDS di Indonesia,
keberadaan kondom menjadi sangat penting. Dua dekade
yang lalu, dalam teknologi pengembangan kondom,
perlindungan ekstra bagi virus penyebab AIDS menjadi
inovasi yang dijadikan sebagai iming-iming oleh
produsen kondom. Dengan penambahan lapisan gel yang
menjadi human alpha interferon yang saat itu terbukti
ampuh sebagai pembunuh virus, dan juga spermisida
nonoxynol-9.
Kini, perkembangan teknologi kondom sudah demikian
pesatnya, termasuk dalam hal bahan, minimalisasi
ukuran pori-pori untuk mencegah kebocoran,
elastisitas, bahan tambahan gel, dan sebagainya.
Bahkan, dengan berbagai macam rasa untuk menambahkan
sensasi hubungan seksual. Makin mudah, murah dan
bervariasi.
Menyikapi penyebaran virus Human immuno Deficiency
Virus (HIV) penyebab AIDS, maka penggunaan kondom
menjadi lebih populer. Cara inilah yang dianggap
paling efektif untuk pencegahan HIV-AIDS bagi mereka
yang melakukan seks aktif berisiko. Belum ada obat
atau vaksin yang dianggap efektif mampu menuntaskan
permasalahan AIDS ini.
Oleh karenanya, wajar jika penggunaan kondom ini
dikampanyekan oleh banyak pihak. Disamping itu,
menyikapi perkembangan gaya hidup, maka penyediaannya
pun dianggap perlu untuk dipermudah dengan sistem ATM.
Dengan hanya memasukkan tiga uang koin Rp. 500
berwarna putih, akan didapatkan satu paket kondom
berisi tiga biji.
Mungkin, dalam bayangan Luther George Simijian, penemu
pertama ATM, saat ia mematenkan alat temuannya pada
tahun 1939, ia belum berfikir bahwa sistem yang serupa
dengan temuannya itu akan dipergunakan pula untuk
produk kondom.
ATM kondom sebenarnya tidak sama persis dengan ATM
yang kita kenal luas karena tidak perlu mempunyai
account keanggotaan khusus. Siapa saja dimungkinkan
untuk mendapatkan tanpa perlu tanda keanggotaan
segala. Seperti halnya telepon umum. Di luar negeri,
sistem seperti ini untuk pembelian minuman ringan
sudah bukan hal yang asing lagi, bahkan untuk
mendapatkan rangkaian bunga.
Kelebihan ATM kondom terletak pada accesabilitasnya.
Dari sinilah dikhawatirkan akan mempengaruhi anak-anak
atau remaja untuk mencoba atau menggunakannya. Toh tak
ada batasan usia, status atau apapun.
Sosialisasi rencana pengadaan ATM kondom ini paling
tidak membuka wacana mengenai bagaimana dan dimana
saja alat ini dipandang perlu untuk ditempatkan. Dan
mengapa Yogyakarta dipilih sebagai salah satu diantara
10 kota yang akan punya alat ini semisal Jakarta,
Bandung, Surabaya, Kepulauan Riau, Papua yang
persebaran/ pertumbuhan penderita HIV-AIDSnya
tergolong paling cepat di Indonesia. Inilah alasan
logis penggunaan ATM kondom di tempat-tempat hiburan,
hotel/ kawasan wisata dimana banyak dimungkinkan
dilakukannya hubungan seksual.
Pendidikan Seks
Seiring perkembangan zaman, di sana-sini terjadi
pergeseran nilai dan budaya. Hal yang semula dianggap
tabu dan hanya menjadi urusan privat seseorang, kini
mulai longgaruntuk mengatakannya sebagai sesuatu yang
biasa-biasa saja. Paling mengkhawatirkan tentu saja
bagi generasi muda seusia anak-anak dan remaja karena
masa itulah tingkat kerawanan secara sosial-psikologis
mulai dipertaruhkan.
Menyikapi hal ini, dalam kaitannya dengan pengadaan
ATM kondom, pendidikan seks sejak dini menjadi
kebutuhan. Anak-anak musti dipersiapkan sejak awal
agar mendapatkan pengetahuan yang cukup dari orangtua
mereka, bukan didahului oleh informasi dari luar yang
besar kemungkinan akan masuk secara parsial dalam
benak mereka. Bahkan, acapkali informasi yang
betebaran di luar, baik lewat media televisi, majalah,
internet maupun kelompok sebaya mereka itu tidak benar
dan berat sebelah. Di sinilah peran orangtua untuk
mempersiapkan mereka dengan pengetahuan yang benar dan
terarah.
Salah satu hal penting dari aspek pendidikan seks ini
adalah pentingnya komunikasi terbuka antara anak dan
orang tua. Tidak seperti kebanyakan orang zaman dulu
yang tertutup dan menganggap anak tak perlu tahu
sehingga dirasa cukup untuk langsung memberikan
istilah “tabu” untuk membendung keingintahuan
anak. Di sinilah perlu kebesaran hati orangtua untuk
mendengarkan mereka serta kesiapan orang tua itu
sendiri untuk memberikan pendidikan seks yang tepat
sasaran bagi anak.
Dengan demikian, rencana pengadan ATM kondom ini
menjadi tantangan bagi orang tua seberapa siapkah
mereka mampu memberikan pendidikan seks secara baik
dan benar, selain juga pendidikan kepribadian untuk
membendung berbagai persoalan semacam pergaulan bebas.
Sebelum lebih terlambat, masih ada waktu untuk belajar
dan memperbaiki komunikasi dengan anak, sebelum
semuanya menjadi lebih terlambat. Disinilah pro-kontra
ATM kondom memberikan warning/peringatan.***

Catatan:
dibuat Mei 2006, dikirim ke media tapi kayaknya GAK DIMUAT

0 Comments:

Post a Comment

<< Home