mayadefitri

Monday, October 22, 2007

RAMADHAN DAN LEBARANKU

Sebelum Ramadhan kemaren, rasanya pengeeen sekali segera menjumpaina. Ada harap-harap cemas menantikan keagungannya.
Setelah Ramadhan tiba, ya…..satu bekal yang kucatat adalah apa yang disampaikan Bu Nunung bahwa sepuluh hari pertama ramadhan Alloh melimpahkan kasih sayang. Sepuluh hari pertengahan Alloh melimpahkan maghfiroh/ ampunan, sedangkan sepuluh hari terakhir Alloh menjauhkan dari api neraka.
Ya, memang benar, kasih sayang itu tampak begitu nyata saat aku “ditolak”. Hehehe, sebuah lompatan yang besar dalam hidupku, dan aku diberi kemudahan. Lega. Apalagi setelah itu dia mulai “membuka” diri secara tidak langsung. Kiranya semua itu bentuk kasih sayang Alloh untukku, dibukakan fakta-fakta itu.
Sepuluh hari berikutnya, aku manfaatkan untuk introspeksi diri. Kalopun mohon ampunan, Tuhanlah yang paling tahu seberapa besar taubat dan rasa sayangku. Kadang terasa begitu susah dan ironis sekali tatkala aku mengatakan cinta. Toh kelakuanku tetap seperti itu-itu juga.
Sepuluh hari terakhir, mulai lelah. Kondisi sekeliling dan semangat Ramadhan mulai meluntur, dan lalu disibukkan dengan kegiatan-kegiatan keseharian menjelang lebaran. Capeeeeek bgt.
Di akhir Ramadhan, lalu masalah baju baru. Hehehe, ponakan-ponakan mulai disibukkan nyari-nyari baju. Yang gedhe pada sibuk nyari duit, menyeretku juga untuk ikut capek-capek. Urusan semacam parsel dan sebagainya yang tak ada hubungannya denganku terdengar begitu riuh. Hahaha….tapi aku cuma melompong.Orang-orang bersibuk mikir baju, lah aku mo ngapain? Maksain beli baju? Aku sendiri jadi malu saat kuingat kualitas puasaku, apakah aku cukup bisa dibilang mendapatkan kemenangan? Apakah aku pantas merayakan kemenangan?
Hingga suatu hari, kakak laki-lakiku ngasih duit, lima puluh ribu. Heheh….mo buat apa? Apakah musti beli baju ? Hehehe, tanggung juga….dan sekali lagi, aku malu.
Aku ingat sekali, saat aku masih kecil, begitu jarang aku mendapatkan hadiah baju baru saat Idul Ftri. Jaraaaang sekali. Bajuku hanya itu-itu saja di saat-saat hari besar, karena memang baju itu jarang dipakai, hanya dipakai saat hari istimewa.
Saat remaja, aku ingat banget, pertama kali aku “ngelengke”/ menyempatkan beli baju dari uangku sendiri. Saat itu kelas 3 SMA, saat datang kiriman duit hadiah lomba nulis yang baru dikirim menjelang lebaran. Entah, aku dulu belanja apa, sepertinya sie sedikit saja, bukannya terus foya-foya. Yang utama adalah beli rok hitam panjang (entah apakah aku juga beli blusnya atau tidak). Hanya rok itu yang aku ingat, di Ramayana Malioboro.
Setelah itu, perayaan lebaran dari tahun ke tahun pun tetap, tidak harus dengan baju baru. Sesekali ada kiriman dari kakak ipar, sesekali aku beli blus saja, ya….sesekali saja. Aku lebih sering mendapat “warisan” dari kakak-kakak. Hehehe, nasib jadi manusia terkecil di rumah ya seperti ini. Ah, peduli amat!
Sekarang-sekarang, saat kakak-kakakku pada lebih dewasa dan tua, justru kulihat seakan-akan mereka mewajibkan adanya baju baru di hari lebaran. Awalnya diniatkan membeli untuk anak-anak mereka, toh akhirnya mereka membali juga untuk diri mereka sendiri. Ah, baju baru!
Hari terakhir Ramadhan, saat nganter Simbok ke pasar, aku dipaksa ikut ke los-los pakaian dan kain. Aku dipaksa-paksa membeli baju. Duuuh, bingung juga aku. Layaknya anak kecil yang ditunggui memilih dan membeli baju. Pusing. Akhirnya , aku berjanji,” Iyaa deh, nanti aku beli sendiri.”
Daaan, sampai sekarang, aku belum beli juga. Aku akan membelinya nanti. Nanti-nanti, maksudku, gak tahu kapan.
After Ramadhan n lebaran, now….ya…seperti ini. I’m fine.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home