mayadefitri

Monday, October 22, 2007

DAN KUATASI CINTA ITU

Dari awal, aku tau bahwa segala sesuatu punya risiko. Kalo gak berani ambil risiko, gak usah hidup, lah!
Segala sesuatu punya risiko dan penyikapan kita adalah sebuah pilihan. Pilihan yang kita ambil adalah pilihan yang kita cintai, bukan pelarian, yang dengannya kita bisa menjadi diri sendiri sehingga kita akan bertanggungjawab atas segala konsekuensinya. Tentu tetap didahului dengan perhitungan yang matang.
Begitu pun dengan cinta. Orang bilang, jangan pernah katakana bahwa dirimu hidup jika belum pernah merasakan jatuh cinta. Nah, lo!
Hahaha, aku mencinta maka aku ada (eksistensialis cara gw! Gw, gitu loh!) Nyatanya, eksistensialis cara seperti itu memang ada dan kurasakan.
Syukurlah, pengalaman dalam hidup telah mengajartkanku akan risiko-risiko itu. Ketika kuulik kembali beberapa bulan terakhir, syukur pula bahwa aku telah dipersiapkan semuanya. Semua diperlancar. Bayang pun!! Risiko mencintai seorang Raka, telah aku sadari sejak awal. Ketika aku dikecewakan dengan sangat atas masalah Mager Sari, aku melihat fakta-fakta itu satu per satu terbuka sedikit demi sedikit. Dan kebetulan, pada saat yang sama, nasib telah mempersiapkanku menghadapi semuanya.
Pertama, terlalu jarang aku mendengar permintaan maafnya setelah pengingkaran2x kecil. Satu kali aku catat dalam memoriku, permintaan maafnya di Ngrukem bahwa ia menyerah dan mengatakan komputernya error. Selebihnya, terlalu jarang. Dan itu tak terlalu penting karena tanpa diminta pun, seringkali rasa sebal bisa luntur dengan sendirinya. Tak apa, rasa marah hanya akan menggerogoti diri kita sendiri.
Kedua, secara kebetulan, aku membaca tips-tips mengatasi patah hati ataupun pengkhianatan-pengkhianatan, serta kudapatkan wawasan-wawasan untuk menilai seseorang. Entahlah, kenapa waktunya bisa demikian. Skenario ini memang sangat mengagumkan.
Ketiga, aku diberi kemantapan hati untuk mengeksekusi keputusan ini. Melamar, bo! Hahaha…lompatan yang besar.
Semua itu berkait kelindan dengan fakta yang terbuka menjelang dan selama Ramadhan. Ramadhan yang penuh berkah. Tentang anak-istri, tentang rumah Jakal, tentang bekas kosan si “mantan pacar”, bagaimana kesan yang kutangkap dari ibu itu tentang pasangan XXXX-Raka. Juga tentang dibukakannya hati Raka. Terima kasih.
Jika aku mau bersikeras memuaskan hati, bisa saja sekali waktu aku mencari dan menemui XXXX/ Raka di tempat tinggal mereka. Bisa saja aku mengunjungi kampung halaman raka di Ciamis. Hanya saja, untuk sekarang, gak terlalu penting. Kapan-kapan saja. Kalau segalanya longgar, aku akan melakukannya.
Meski cinta ini belum berakhir, bahkan mungkin tidak akan berakhir, gpp. Kusimpan mereka dalam hatiku. Raka manusia istimewa yang pernah mengisi hari-hari bahagiaku di masa kemaren duldu, meski (mungkin) bukan untuk hidupku di masa yang akan dating. Ada sesuatu di atas kecintaanku terhadapnya. Dan, kuatasi cinta itu, dengan caraku.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home