mayadefitri

Monday, March 10, 2008

Sajak-sajakku

ZIARAH
saat senja turun menaungimu
diamlah sejenak, anakku
tengok dulu kotak cakrawalamu
masihkah bunga krisan ada di situ

mencium pendar wanginya
masihkah dia punya aroma yang sama
jangan terburu engkau cemburu
jika tak setajam saat dulu

tak ada yang berubah, anakku
wangi krisanmu terkumpul rapat
di pusara ibu
dagen_pvr, 29/30 Nov 2K8

TUTUP SAJA KELAMBU ITU
tutup saja kelambu itu
tanpa rongga tanpa celah untukku
mengintip apalagi bersitatap
memandangmu kembali dalam keremangan

matahari telah meninggi
remang-remang buatan kita telanjur ketinggalan kereta
meski masih ada cahaya
untuk sebuah nyata yang berjarak entah

tutup saja kelambu itu
tempat kita bersarang mengendap-endap
tempat kita menindas segala gamang
melagukan sebuah remang yang telah kita buat sejak semula

aku terus saja malu-malu tapi mau
dan kamu selalu mau-mau tapi malu

tutup saja kelambu itu
tanpa rongga tanpa celah untukmu
mengintip apalagi bersitatap
memandangku kembali dalam keremangan

tutup saja kelambumu
untuk menutup segalamu

dagen_pvr, 20/ 2 /2K8

AYAHKU BANGUN
Ayah sayang, belum bangun ya
Ayo dong, Yah
Jangan keduluan ama ayam

Terusik tidur ayah
dari lautan tak terlihat tepi

Terdampar di sini
tersadar kita telah rapat ke pinggir

Ayah, mendarat yuk
kita temani makhluk kecilmu
agar sehebat ayah yang dulu

Kita ajak ayam menyambut mentari
Indah sekali

Klukuk kluruk, klukuk kluruk
Senyum ayah, ayah kecilku, aku dan ayam
bersinar bersama pagi
05.00/2/03/2K8

AKHIRNYA HARUS
akhirnya harus kuakui
cinta sejati itu berhias sebentuk angan
jangkauannya panjang sepanjang angan-angan

pernah kucari-cari
dalam perjalanan naik turun keluar masuk
melawan tebing yang meringis-ringis
pada peta yang kabur tak terbaca

sempat aku tersesat salah jalan
berulang-ulang, berputar-putar hingga putus harapan
putus persaudaraan
toh harus kuakui
cinta tak mau ditali untuk dimiliki

dengan mencintai
aku memiliki
Feb/ Mar 2K8

GAGAP
Kucoba berdansa denganmu di pojok ruang itu, lagi. Dalam keremangan bersama hentakan degub yang berkejaran, kita mengeja dan sengaja melupakan bahwa biola ini telah berkarat sejak kau tinggalkan ia pada gudang yang paling dalam. Sayang, aku tergagap untuk meliukkan diri pada harmoni yang kauhidangkan dari bongkahanmu yang mulai rekah satu per atu. Aku mati kaku pada keruntuhanmu.
dagen_pvr, 2/3/2K8

0 Comments:

Post a Comment

<< Home