mayadefitri

Wednesday, May 12, 2010

ANDROGINI, lum dikasih judul

PROLOG
Bila RA Kartini demikian mengidamkan hak perempuan yang lebih besar daripada porsi yang diberikan oleh laki-laki pada jamannya, boleh jadi Kartini belum juga tersenyum ketika menyaksikan keadaan perempuan pada masa 230 tahun setelahnya kelahirannya ini.
Bagaimana tidak? Garis merah yang ditorehkannya memang memacu peran yang lebih besar pada kaum perempuan di segala bidang, hingga perempuan tak lagi identik dengan peran domestik sumur-kasur-dapur ataupun berada pada subordinasi laki- laki. Pada era pembangunan, kesempatan berlabel emansipasi perempuan telah mengantarkan banyak perempuan pada posisi di sektor publik.
Posisi perempuan yang melebar hingga ranah publik, bukan serta merta menggeser, apalagi meniadakan, peran domestik perempuan. Peran perempuan pada dua wilayah tersebut disanjung sebagai “peran ganda perempuan”. Akibatnya, perempuan dituntut sebagai superwoman yang harus menyelesaikan pekerjaan di luar rumah dengan sekaligus tetap menjadi ratu rumah tangga yang bertanggungjawab atas semua tetek-bengek urusan sumur-kasur-dapur.
Parahnya, dengan peran ganda yang berujung pada “beban ganda” sekaligus “penganiayaan ganda” perempuan, munculnya kesadaran laki- laki untuk memahami tuntutan yang tidak rasional ini datang terlambat.
Semua fenomena ini tak dapat dilepaskan dari bagaimana pandangan budaya masyarakat dalam memandang relasi laki-laki dan perempuan.

KONSEP GENDER
Pandangan masyarakat tentang perbedaan peran, fungsi dan tanggung jawab antara perempuan dan laki- laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman. Inilah yang disebut sebagai konsep gender.
Dalam masyakat tradisional di Indonesia, umumnya perempuan dianggap sebagai makhluk kelas dua, subordinasi laki- laki atau di bawah dominasi laki- laki.
Perbedaan konsep gender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran perempuan dan laki- laki dalam masyarakatnya. Secara umum, adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab fungsi dan bahkan ruangtempat dimana manusia beraktivitas. Demikian kuatnya sehingga kita sering lupa sehingga menganggap konstruksi sosial ini sebagai sesuatu yang permanen sebagaimana permanen dan abadinya perbedaan biologis antara laki- laki dan perempuan.
Perbedaan gender antara lain memunculkan konstruksi biologis dari peran laki- laki dan perempuan. Laki- laki dikonstruksikan sebagai makhluk yang harus maskulin sedangkan perempuan sebagai makhluk feminin. Laki- laki adalah makhluk yang kuat sementara perempuan diposisikan sebagai makhluk yang lemah.
Anggapan bahwa sikap perempuan feminim atau laki-laki maskulin bukanlah sesuatu yang mutlak, semutlak kepemilikan manusia atas jenis kelaminnya.
Diskriminasi gender ini bermuara pada termarginalisasinya perempuan, terbentuknya stereotip/ pelabelan negatif, kekerasan dan beban ganda yang diterima perempuan. Di sinilah kemudian diperlukan dekonstruksi atas pemahaman yang ada mengenai peran dan stereotip perempuan. Pola androgini hadir sebagai jalan tengah untuk mencapai kesetaraan gender antara kedua jenis kelamin ciptaan Tuhan ini.

POLA ANDROGINI
Pola androgini mengajarkan bahwa tak ada pembedaan peran antara laki- laki dan perempuan dalam kehidupan sehari- hari. Pola asuh terhadap anak, tidak perlu dibedakan mengingat perbedaan antara laki- laki dan perempuan terutama terletak pada kenyataan bahwa perempuan mengalami menstruasi, dapat hamil, melahirkan dan harus menyusui bayinya.
Ditinjau dari kecenderungan seorang anak menyukai suatu permainan, pada dasarnya tidak ada perbedaan. Lingkunganlah yang sering mengarahkan jenis permainan anak berdasar pada jenis kelamin.
Sebuah studi di Yogyakarta menunjukkan bahwa permainan anak bersifat unisex (Pranowo dan Hasan Ayari, 2002), maksudnya, antara anak laki- laki dan perempuan memilih mainan yang tidak mengarah pada jenis kelamin. Misalnya, tak hanya laki- laki yang menyukai robot2xan, tak cuma perempuan yang menyukai “pasaran”. Dengan demikian, sejak dini anak akan belajar bahwa sifat feminin dan maskulin dapat dikembangkan secara seimbang sehingga di kemudian hari akan mengeliminasi ketergantungannya terhadap orang lain. Hal ini perlu dikembangkan mengingat sifat feminim dan maskulin ada dalam diri setiap orang, baik laki- laki maupun perempuan. Hanya kadarnya saja yang membedakan.
Dengan demikian, sebagaimana dalam perkembangan yang ada sekarang, muncul istilah pria metroseksual yang telah meluluhlantakkan stereotip bahwa hanya perempuanlah yang suka berdandan. Toh, “pria- pria pesolek” pun telah menjadi trend. Demikian pula telah banyak tergambar perempuan perkasa yang menolak stereotip bahwa perempaun selalu harus menjadi wanita yang lemah lembut nan gemulai.
Ratna Djuwita Chaidir, psikolog dari Universitas Indonesia mengungkapkan adanya penelitian yang menemukan bahwa pria yang mampu mendayagunakan potensi kromosom X dan Y secara optimal, yang disebut sebagai pria androgenis, ang menjalani hidup dengan hormon laki- laki dan perempuan secara seimbang. Kepemimpinan,kemampuan fisik dan hal lain yang identik dengan “hormon kelelakian”, juga diimbangi dengan berkembangnya cita rasa estetik, kepekaan dan tenggang rasa yang identik dengan “hormon kewanitaan”. Terang saja, kaum androgenis lebih bisa mengelola kehidupan, lebih lengkap secara kepribadian dan pada akhirnya berhasil dalam menggapai karier. Demikian diungkapkannya pada Intisari edisi Desember 2004.

PRIA METROSEKSUAL
Istilah metroseksual telah muncul sejak tahun 1994 melalui sebuah artikel yang ditulis oleh penulis Inggris, Mark Simpson. Simpson sendiri mendefinisikan metroseksual secara sederhana sebagai, “a dandyish narcissist in love with not only himself”, but his urban lifestyle,” pria yang cinta setengah mati tak hanya pada dirinya, tapi juga gaya hidup kota besar yang dijalaninya.
Metroseksual berasal dari etimologi Yunani: metropilis (ibu kota) dan seksual. Pria metroseksual disematkan untuk pria (kebanyakan berusia muda, meski tidak selalu demikian) yang berpenampilan dandy, sangat peduli akan penampilannya, senang memanjakan dirinya dan menjadi pusat perhatian, sangat tertarik dengan fashion dan berani menampilkan sisi femininnya.
Moh Anggit Sarwoko (2009) melakukan analisis semiotik dan mendapati rubrik “25 pria gaya pilihan Esquire” pada majalah Esquire edisi September 2008. Ia menyebut gaya hidup metroseksual, yang menjadikan penampilan luar dan kemewahan fisik serta materi dan kesenangan dalam diri para pria yang bersifat konsumtif. Hal ini diungkapkan lewat fashion, sebagai tujuan utama dalam hidup.
Menilik fenomena pria metroseksual, gaya hidup konsumtif ini pula yang diyakini sebagai akar dari gaya hidup metroseksual, yang berawal dari kaum hedonis dari sistem ekonomi liberal atau kapitalis. Hal ini ditandai dengan merebaknya majalah gaya hidup, fashion dan aksesoris yang ditujukan untuk kaum pria. Kesempatan ini dimanfaatkan para pelaku industri gaya hidup dan media sebagai saluran untuk mendulang keuntungan materi yang besar. Ideologi, konsumerisme dan hedonisme terkonstruksi serta tersembunyi dibalik karya seni dan kreativitas desain gambar maupun tulisan. Rubrik dan citra identitas korporat dipropagandakan ke dalam otak dan jiwa manusia, ditujukan agar menjadi keyakinan serta life style yang menuju kepada mitos dan filosofi yang dikembangkan keseluruh dunia.
Ya, lahirnya pria metroseksual merupakan ulah arus modernisasi dunia, dimana pria juga dituntut rapi dan bersih. Tidak benar jika menyamakan para pria pesolek ini dengan gay! Mereka memang suka sekali memakai barang-barang yang hanya dimiliki kaum gay. Tapi jangan harap mereka akan melirik pria di kafe, mal, atau dimana saja! Para pria ini menganggap dirinya lebih perhatian, romantis, dan keren. Berbeda dengan pria pada umumnya yang menganggap diri lebih unggul dan ingin menguasai perempuan.
Satu sumber juga mengatakan bahwa gaya hidup metroseksual muncul ketika perempuan mulai masuk ke ranah publik sehingga kebiasaan berdandan dan lebih memperhatikan penampilan yang biasa dilakukan oleh perempuan pun kemudian menjadi kebiasaan yang dianut laki- laki.
Para pria penganut paham metroseksual ini tidak lagi takut disebut banci dengan menyapu bedak tipis-tipis atau sekedar mengoleskan cream tabir surya di wajahnya. Mereka berani melakukan eksperimen dengan baju yang dipakainya. Kemeja warna pink yang diserasikan dengan dasi senada bukan tabu untuk dipakai. Lebih ekstrim lagi, sebagian pria metroseksual juga yang memakai stocking jaring-jaring dalam kesehariannya.
Dan, melihat tampilan para pria metroseksual, tampaknya David Beckham masih bertahan ikon laki- laki metroseksual nomor satu di dunia. Tidak saja menjadi bintang di lapangan hijau, tetapi juga menjadi panutan dalam hal gaya ala metroseksual. Apalagi dengan bisnis cologne yang dilakoninya.
Sosok David Beckham merepresentasikan pria metroseksual sebagai seorang pekerja cerdas yang penuh percaya diri serta sangat peduli pada keluarga dan teman-temannya. Umumnya mereka pasangan setia yang penuh perhatian pada keluarganya. Mereka bukan figur ayah yang gagah, kulitnya berminyak dan tubuhnya beraroma tembakau atau keringat. Mereka tahu banyak hal dan sebagai penentu segala keputusan yang tak bisa dibantah. Lebih jauh dari itu, kaum metroseksual adalah suami yang tak ragu menggandeng dan mencium istrinya di muka umum, ayah yang tubuhnya selalu segar dan wangi, gemar merangkul anak-anaknya, bersama-sama belanja di mal, menonton film atau berburu pernik-pernik aksesori. Pendeknya, mereka adalah teman yang baik bagi istri dan anak-anaknya.
Beckham bukan satu-satunya pria pesolek. Di deretan pesohor saja ada Brad Pitt, George Clooney, Antonio Banderas, Ian Thorpe, Tom Cruz, dan masih banyak lagi. Termasuk juga Michael Jackson yang “keterlaluan” metroseksual, hingga Silvio Berlusconi (PM Italia sekaligus pemilik AC Milan) yang sempat menjalani operasi kantung mata. Tren metroseksual juga bukan monopoli New York, London, Paris atau kota-kota dunia lainnya. Di Indonesia, gaya ini pun sudah banyak digandrungi pria metropolitan – terutama di Jakarta, Surabaya dan Bandung. Majalah Femina pernah menggelar ajang pemilihan pria terseksi di Indonesia, nama-nama yang muncul: Ferry Salim, Ari Wibowo, Nicholas Saputra, Jeremy Thomas dan Adjie Massaid. Semuanya bagian dari kalangan selebriti yang memang harus selalu tampil berdandan, merawat diri, suka pesta, hedonis, dan aktif mengikuti fashion. Untuk golongan pebisnis, sosok metroseksusal dapat dijumpai pada Surya Paloh yang rapi, wangi dan suka memanjakan tubuhnya di spa.
Meski awalnya sempat dipandang dengan tatapan heran, nyatanya fenomena metroseksual terus merebak. Mulanya tren ini hanya menjangkiti para model, artis dan orang-orang media, belakangan ia terus meluas ke kalangan olahragawan, pebisnis (khususnya eksekutif muda kota besar), pengacara, bahkan diplomat! Data yang diungkapkan Majalah The Economist tujuh tahun yang lalu, tepatnya edisi 5 Juli 2003, disebutkan bahwa di Amerika Serikat, jumlah kaum metroseksual mencapai 30%-35%. Mayoritas dari mereka adalah pekerja profesional dan eksekutif muda.
Sementara itu, Alfons (pemilik Alfons Salon), pada majalah Intisari edisi Desember 2004 menmenolak anggapan bahwa pria pesolek sama dengan gay. “Tujuh puluh persen customer-ku laki- laki, dan 90 persen diantaranya adalah laki- laki normal,” ungkapnya.


PEREMPUAN PERKASA
Apabila biasanya keperkasaan disematkan sebagai milik laki- laki, tentu perlu pula dibahas mengenai perempuan yang melakoni hidupnya seolah menentang stereotip feminin yang berkonotasi sebagai makhluk lemah, pasif dan tergantung pada pihak lain. Sifat androgini pada perempuan dalam dunia pewayangan akan kita temui pada sosok Srikandhi dan Larasati. Srikandhi dikenal sebagai prajurit perempuan yang mampu membunuh Bisma di tengah padang Kurusetra pada saat perang Barata Yudha. Sedangkan Larasati adalah pemanah hebat yang mampu mengalahkan Srikandhi dalam lakon “Srikandhi Meguru Manah”.
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, kita juga mengenal nama- nama Cut Nyak Dien yang memimpin laskar Aceh memerangi Belanda. Demikian juga dengan Christina Martha Tyahahu dari Saparua, Nyai Ageng Serang dari Banten yang berada di garda depan melawan Belanda.
Sementara itu, dalam dunia kontemporer, dalam jagat bisnis global kita dapati lima perempuan brilian dengan perannya masing-masing yang mampu memberikan kontribusi mengagumkan dalam dinamika peradaban.
Pertama, Marissa Mayer, si Ratu Google. Perempuan 35 tahun ini (kelahiran 30 Mei 1975) adalah seorang petinggi Google. Ia menjabat sebagai Wakil Presiden bidang Search Product dan User Experience. Bisa dibilang, hampir tidak ada produk atau layanan yang dirilis oleh Google tanpa melalui perempuan yang masuk dalam daftar bergengsi yang dibuat oleh majalah Fortune sebagai 50 besar dalam daftar “most powerfull women in the world”. Dan tahun ini dia diberi gelar sebagai “Woman of the Year” di Amerika. Tak diragukan lagi, sentuhan tangan dingin Marissa telah ikut mewarnai jejak kehidupan begitu banyak orang di muka bumi ini.
Kedua, Sheryl Sandberg. Kalaulah sekarang Anda makin kecanduan dengan Facebook, maka selayaknya Anda berterima kasih pada perempuan melankolis ini yang merupakan Chief Operating Officer, atau orang nomer dua di Facebook setelah sang pendiri Mark Zuckerberg. Sebelumnya, Sheryl sendiri lama berkiprah di Google. Bersama-sama dengan Marissa Meyer, mereka berdua sering disebut-sebut sebagai Duo Ratu Sillicon Valley yang memiliki peran amat fundamental bagi meroketnya dominasi Google dalam jagat online global. Kehebatannya telah membuat sang pendiri Facebook terpesona, dan kemudian mumbujuknya untuk keluar dari Google, serta bergabung untuk membesarkan Facebook agar kian berkibar. Apakah dia akan berhasil? Sejarah yang akan membuktikannya.
Perempuan ketiga, bisa kita longok pada perempuan kelahiran India, Indra Nooyi merupakan orang nomer satu di Pepsi International, rival berat Coke. Dalam skala global, kini kinerja Pepsi jauh meninggalkan Coca Cola lantaran satu faktor fundamental : Pepsi memiliki varian healthy products yang jauh lebih beragam dibanding Coca Cola. Faktor ini amat membantu kinerja bisnis Pepsi ketika kini makin banyak orang yang ogah minum junk drink macam Coca Cola, dan lebih peduli dengan produk minuman dan makanan ringan yang bergizi (semacam Gatorade dan Oatmeal – kedua-duanya dimiliki oleh Pepsi). Sebelum menduduki posisi CEO Pepsi, Indra menduduki posisi dalam area strategic planning – dan dirinya dianggap sebagai salah satu figur penting dalam merumuskan serangkaian pilihan strategi nan jitu bagi kesuksesan Pepsi.
Perempuan tangguh keempat adalah Anne M. Mulcahy. Banyak orang skeptis ketika pada tahun 2001 silam, Anne ditunjuk sebagai orang nomer satu perusahaan raksasa Xerox. Saat itu Xerox di ambang kehancuran lantaran kian kalah bersaing dengan para rivalnya (seperti Canon dan HP), dan tak banyak orang yang percaya Anne mempu menyelematkannya dari tirai kematian. Toh, ternyata dia mampu menepis keraguan itu. Kini Anne membuktikan bahwa keraguan itutidak lah benar.
Perempuan brilian kelima yang ingin kita bincangkan adalah sosok Ho Ching. Kalaulah Anda sekarang menggunakan kartu Simpati Telkomsel atau Mentari Indosat, maka itu berarti Anda ikut menumbuhkan pundi-pundi kekayaan Ho Ching. Sebab perempuan low profile ini merupakan orang nomer satu yang mengomandani kerajaan Temasek, sebuah imperium bisnis dengan jelujur bisnis yang merentang dari Jakarta hingga Mumbai, dari Singapore hingga New York. Dengan dana kelolaan hingga mencapai Rp 1500 trilyun rupiah, Ho Ching memang memikili kekuatan penuh untuk menggenggam pusat-pusat bisnis dunia (terakhir, Temasek mencaplok perusahaan finansial raksasa dari Amerika, Merrill Lynch yang tengah terhuyung-huyung).

Satu contoh menarik lagi dapat dilihat dari pemerintahan sosialis PM Jose Luis Rodriguez Zapatero yang penuh kontroversi di Spanyol. Ia dikenal sebagai pendukung fanatik kesetaraan gender. Zapatero menghadirkan pemerintahan yang didominasi perempuan. Ada sembilan menteri perempuan dibandingkan dengan delapan menteri laki- laki saat diambil sumpah di hadapan Raja Juan Carlos, April 2008. Salah satu yang luar biasa adalah, diangkatnya seorang Carmen Piqueras Chacon yang saat itu sedang hamil 7 bulan untuk menempati pos yang didominasi pria. Chacon- lah yang tercatat dalam sejarah Spanyol sebagai perempuan pertama di Spanyol yang menduduki posisi Menteri Pertahanan!
Beberapa nama di atas merupakan contoh perempuan- perempuan yang mampu unjuk taring di di bidangnya masing- masing. Lalu, jika ditengok lebih jeli, perempuan- perempuan perkasa pun dapat kita jumpai di sekitar kita. Tengoklah sebentar sekeliling, lalu sandingkan dengan sajak yang indah ini:

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

Oleh Hartoyo Andangjaya

Ya…..perempuan- perempuan digdaya itu ada di sekitar kita. Tanpa mereka sadari, mereka menolak stereotip perempuan feminin yang lamah, pasif, emosional dan tergantung pada lawan jenisnya. Mereka perkasa dengan segenap cintanya.

EPILOG
Luar biasa. Peran perempuan- perempuan tangguh di atas telah membuktikan diri untuk menolak marginalisasi dan stereotip negatif mengenai dirinya. Mereka membuktikan bahwa perempuan memang penuh pesona dan dapat bersanding setara dengan laki- laki sebagai partner.
Perempuan dan laki- laki diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing- masing. Tidak perlu keduanya diletakkan pada garis dengan pembedaan dikotomis yang terlampau tegas. Upaya untuk menjembatani kesenjangan, saling menghormati dan menghargai antar lawan jenis perlu terus dipupuk. Bukankah dunia diciptakan untuk membangun kedamaian, keselarasan dan keadilan?
Jadi, jika Anda masih mengharuskan bahwa perempuan musti lemah, lembut gemulai sebagai pelayan laki- laki, sedangkan Anda menggambarkan bahwa laki- laki harus “super hero” dan berotot, ketika Anda menganggap bahwa laki- laki itu tabu untuk menangis, laki- laki tabu untuk mencuci, mengepel lantai, mengganti popok anak, ataupun tabu untuk melakukan pekerjaan- pekerjaan domestik lainnya, kiranya perlu berkaca pada cermin androgini. Serta merta ini akan menghapuskan anggapan bahwa Anda ketinggalan jaman. Merunut dari paparan artis Nurul Arifin yang mengingatkan bahwa emansipasi adalah keluar dari nilai- nilai tradisional, maka, marilah sama- sama beremansipasi, meninggalkan nilai- nilai/ budaya kuno yang layak untuk ditinggalkan, sebagaimana apa yang ditentang oleh Kartini pada masanya. Dengan demikian, akan tercapai keselarasan yang lebih elegan dalam hubungan laki- laki dan perempuan. ## maya de fitri, 28/ 4/ 2010

0 Comments:

Post a Comment

<< Home